About Me

Nama lengkap saya Muhammad Arifuddin. Saya sangat suka dengan nama ini karena dua faktor.

Yang pertama adalah suka dengan artinya. Yang kedua suka karena yang memberi nama, yaitu KH. Aqib Umar Kaliwungu.

Saya lahir pada bulan Juni 1992. Sejak kecil hidup di Pesantren, tepatnya sejak tahun 1999 atau usia 7 tahun. Hanya di tahun 2000/2001 saya berhenti tidak di Pesantren.

Alasannya, sejak kecil saya tidak mau di sekolahkan oleh orang tua saya. Sedangkan orang tua saya menganggap sekolah itu sangat penting. Jadilah Pesantren menjadi tempat pendidikan saya sejak usia dini.

Pendidikan

Ringkasan

  • 1999 – 2000 (Pesantren Rohmatullah, Cokro – Magelang)
  • 2002 – 2005 (Pesantren Miftahul Huda, Kedungwuni – Pekalongan)
  • 2005 – 2007 (Pesantren Al-Mustaqim, Mranggen – Demak)
  • 2007 – 2010 (Pesantren Futuhiyyah, Mranggen – Demak)
  • 2010 – 2016 (Pesantren Al-Musyaffa’, Ngampel – Kendal)
  • 2016 – 2017 (Pesantren Sintesa, Magetan)
  • 2017 – 2019 (Pesantren Al-Musyaffa’, Ngampel – Kendal)

1. MI/SD

Untuk pendidikan tingkat dasar (SD/MI). Saya menjalaninya di tiga Pesantren. Kelas 1 di MI Rohmatullah, Pon-Pes Rohmatullah, Cokro – Magelang.

Di Magelang ini saya pernah mencoba kabur dari Pesantren bersama dua teman saya. Kami keluar Pesantren pada jam sekolah saat gerbang keluar buka. Namun pada akhirnya kami diantarkan kembali ke Pesantren oleh seseorang yang mengaku ingin membantu mengantarkan kami pulang ke rumah. Iya rumah, rumah Pesantren.

Pada saat libur hari raya, saya mogok tidak mau berangkat lagi ke Pesantren. Pada saat itu orang tua saya hanya membiarkan saya (Terserah mau ngapain).

Setelahnya, saya yang meminta sendiri untuk mondok. Jadilah saya mondok di Pekalongan. Di pekalongan ini saya hanya bertahan selama dua tahun.

Selama saya di Pesantren, di Pekalongan inilah saya merasakan pondok yang paling padat dan ketat. Sampai saya pernah menjalankan kegiatan sambil tidur (ngelindur) karena saking lelahnya hidup ini, eh.

Setelah di Pekalongan, saya pindah lagi ke Mranggen. Di Mranggen ini suasananya agak modern, dekat dengan kota. Dan Alhamdulillah, di Mranggen ini saya menyelesaikan pendidikan dasar saya. Alhamdulillah saya menjadi lulusan terbaik, berhasil mengalahkan putra Kyai Abdul Bashir (Kyainya Habiburrahman El-Shirazy penulis Ayat-ayat Cinta & KCB).

2. MTs

Pada tingkatan menengah, saya masih melanjutkan di Futuhiyyah. Pesantren yang banyak meluluskan tokoh itu. Saya sekolah di MTs Futuhiyyah 1. Ketika kelas 2, saya sempat ingin berhenti. Dan meminta pindah di Pesantren API Tegalrejo menyusul kakak saya yang hanya mondok saja. Tetapi orang tua tidak mengijinkan dan meminta saya untuk menyelesaikan tingkat MTs, baru nanti kalau mau pindah ke sana.

3. Aliyah

Setelah lulus di tingkat menengah. Saya pindah di Pesantren di kota kelahiran saya sendiri. Kendal, saya masuk di Pesantren Al Musyaffa’. Di Pesantren ini bisa sambil sekolah, atau hanya mondok.

Di sana saya masuk SMK. Selama sekolah, saya merasa pelajaran sekolah sebanyak itu tidak saya butuhkan di masa yang akan datang. Lalu buat apa saya menghabiskan uang dan waktu selama tiga tahun untuk hal yang tidak saya butuhkan kelak. Akhirnya, tepat di bulan ketiga saya keluar dari sekolah.

Setelah keluar dari sekolah saya fokus di salafnya. Dan Alhamdulillah, saya lulus dari Madrasah Salaf sebagai wisudawan terbaik.

Pendidikan Skill

Saya sadar, sebagai santri di era 4.0 ini sangat perlu mengimbangi dan membekali diri dengan pengetahuan digital. Pada tahun 2016 lalu saya masuk Pesantren Sintesa. Setelah melalui seleksi dari pendaftar seluruh Indonesia. Alhamdulillah saya diterima. Silahkan baca-baca link tersebut untuk mengetahuinya.

Motto