Arti Sebuah Nama, Sebagai Doa atau Hanya Sekedar Brand

Duluu sekali, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya ketika saya mondok di Pesantren Hidayatus Sibyan Pekalongan. Guru saya mengatakan, “Nama itu mewakili karakter atau sifat seseorang. Kalau ada seseorang yang perilakunya tidak sesuai dengan namanya, maka akan cepat mati”.

Mendengar itu saya jadi merinding. Tapi mungkin ada benarnya. Lihat saja, ada banyak orang yang selalu pesakitan, katanya “Kaboten jeneng – keberatan nama”, setelah namanya diganti menjadi sembuh, tidak pernah pesakitan lagi.

Dulu ketika saya mondok di Mranggen – Demak (Masih Sekolah MI). Salah satu pengurus saya ada yang pernah ganti nama. Sebelumnya, namanya adalah Robiatul Farokhah, karena sering sakit, diganti menjadi Salamah (Wanita yang selamat). Setelah itu tidak pernah sakit-sakitan lagi. Nama Salamah berarti lebih cocok untuk beliau.

Di Tangerang, Paman saya punya perusahaan di bidang Engineering dan Fabrikasi, fokus utamanya adalah pembuatan tenda membrane. Sebelumnya, nama perusahaannya adalah Poly Kreasi. Menurut pengakuannya, ketika menggunakan nama Poly Kreasi ini orderan lumayana sepi. Kemudian beliau sowan ke Guru Ngajinya. Lalu disarankan untuk menyisipkan nama “Marzuqi”. Setelah diganti katanya menjadi rame orderan. (Marzuqi = Yang diberi rizki). Sekarang menjadi Marzuqi Teknik Utama.

Di kampung tempat sekarang saya mondok, ada seseorang namanya Salman (Benar-benar selamat). Beliau adalah tukang pijit tulang, entah berapa orang yang telah diselamatkan melalui perantara beliau. Banyak sekali, mulai dari keseleo biasa, terkilir, patah tulang, lumpuh tahunan, dll. Bahkan kebanyakan dari mereka sebelumnya telah membawa sakitnya ke RSUD, namun tidak ada perubahan. Setelah di bawa ke Pak Salman, sembuh. Mungkinkah karena arti nama beliau ikut berpengaruh?

Lalu bagaimana dengan nama yang hanya menjadi Brand. Ya, Brand Awarness. Meskipun tanpa arti, yang penting keren, mudah diingat, anti mainstream dan kekinian.

Dulu ketika saya di Pesantren Sintesa, ketika disuruh untuk memilih nama domain (nama untuk website + Brand). Di antara teorinya adalah seperti itu, nama yang mewakili produknya, anti mainstream, mudah diingat, dan keren. Ketika nama itu disebut langsung dan hanya akan tertuju pada produk itu. Meskipun tidak ada artinya.

Sebagai contoh adalah Lazada, Blibli, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Zalora dll. Itu adalah beberapa brand besar yang saya kira tidak memiliki arti. Sebagian masih agak nyambung untuk mewakili produknya. Namun sebagian lagi babar blass or a nyam bung. Oleh karena itu, saya menggunakan nama elizato.com untuk website pertama saya. Tidak ada artinya, hanya sebuah brand.

Nama-nama di atas dianggap lebih Branding daripada nama-nama pasaran seperti PT. Makmur Sejahtera, PT. Jaya Abadi Sentosa, dll. Karena terlalu banyak yang menggunakan nama-nama seperti itu. Salah? Tidak. Nama-nama itu, meskipun kurang untuk Branding, tapi baik dari segi “Doa & Harapan” produk.

Itu kan nama untuk perusahaan? Bagaimana dengan manusia?

Kembali ke Pesantren saya. Hampir setiap awal tahun, Kyai saya selalu meminta untuk mencatat nama-nama Santri baru yang tidak ada artinya, yang artinya kurang baik, asing, aneh, dll. Santri-santri dengan nama yang kurang relevan itu kemudian dipanggil. Diwawancarai, dan ditanya artinya apa. Kebanyakan dari mereka tidak tau artinya. Kemudian disarankan untuk diganti.

Saya jadi teringat Hadits Nabi:

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil nanti pada Hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka perbaguslah nama-nama kalian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ad-Darimi)

Said bin Al-Musayyib menceritakan, bahwa kakeknya yang bernama Hazan pernah datang menemui Nabi. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Nama saya Hazan.” (Hazan = Sedih)

Nabi berkata, “Tidak, namamu adalah Sahal.” Dia berkata, “Saya tidak akan mengganti nama yang telah diberikan oleh ayahku.” (Sahal = Mudah)

Said bin Al-Musayyib meneruskan, “Setelah itu, dia selalu kelihatan seperti orang yang sedih di tengah-tengah kami.”

Saya jadi teringat, masa kecil saya dulu sangat nakal. Entah, saya benar-benar enggan melaksanakan setiap apa yang diperintahkan Bapak saya kepada saya. Salah satunya, saya tidak mau sekolah, bahkan lewat jalan depan sekolah pun saya tidak mau. Ini dianggap nakal, karena orang tua saya menginginkan bahwa saya “harus sekolah”.

Beberapa kali Bapak saya sowan kepada Kyai, minta doa dan solusi. Saya sering merasakan, ketika tidur pada dini hari. Bapak membacakan doa “Robbisyrohlii…….” kemudian ditiupkan ke ubun-ubun saya. Namun belum juga berhasil, saya belum mau sekolah. Saya juga masih alah ora sakarepe dewe.

Hingga akhirnya, Bapak sowan ke KH. Aqib Umar, pengasuh Pon-Pes Bani Umar – Kaliwungu – Kendal. Kata Bapak saya. Ketika sowan itu Mbah Yai Aqib berpesan agar saya dibiarkan saja. Tidak usah diurusi, tidak usah dipikir. Nanti kalau saatnya baik akan menjadi baik sendiri.

Mbah Aqib juga menyarankan agar nama saya diganti, “Muhammad Arifuddin”, nama yang beliau berikan. Sebelumnya, nama saya adalah Imam Bandanniji, sebuah nama yang sampai sekarang saya tidak tau artinya. Kata Bapak nama itu tidak ada artinya, itu adalah nama tokoh pejuang Islam, tafa’ulan katanya.

Menurut Bapak, nama itu disebutkan dalam kitab Fathul Wahab. Saya sudah mengaji kitabnya, tapi tidak menemukan kisahnya. Mungkin karena ngajinya tidak lengkap. Dan sampai sekarang saya juga belum pernah menemukan kisahnya.

Setelah pergantian nama itu. Ada banyak sekali perubahan pada diri saya. Perubahan secara perlahan-lahan yang tidak terasa. Terimakasih Mbah Aqib Umar, atas pemberian namanya. Saya jatuh cinta dengan nama itu. Muhammad Arifuddin. Arifuddin = Orang yang tau agama.

Tinggalkan komentar