Bertahan atau Pergi

Bertahan atau Pergi? Ini Pertimbangannya

Pernahkah kamu merasa dilema antara memilih bertahan atau pergi?

Ini bukan soal hubungan sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan asmara, atau antara suami-istri. Tapi lebih universal dari itu. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak lepas dari sebuah hubungan. Maka kadar yang menjadi ukuran adalah simbiosis mutulisme di antara keduanya.

Sebagai contoh, ketika kamu browsing informasi di Google Search, kamu akan menemukan banyak sekali situs yang menyuguhkan informasi yang kamu cari. Kamu akan bertahan saat informasi yang kamu butuhkan cocok di situs yang kamu baca. Namun sebaliknya, kamu akan pergi saat informasi yang kamu baca tidak cocok.

Tidak berhak bagi situs mengunci halamannya sehingga orang yang terlanjur masuk ke halaman tersebut tidak bisa keluar lagi, padahal informasi yang dicari tidak cocok dengan yang dibutuhkan.

Sesimpel itulah kira-kira gambarannya.

Saat kamu dituntut untuk bertahan, pada saat yang sama sebenarnya kamu juga punya tuntutan untuk mendapatkan sesuatu yang kamu cari. Saat tuntutan itu datang hanya dari salah satu pihak, di situlah muncul bibit parasit dan toxic. (Berlaku kaidah “Kullu Qoidatin Mustastnayat”).

Dalam hal ini, saya menemukan tulisan Mas Christian Aditya yang sangat bagus dari jaringan saya di LinkedIn, berikut tulisannya:

Kesimpulannya, masing-masing dari kita adalah subyek dan obyek sekaligus, fa’il dan maf’ul sekaligus. Kita tidak melulu menjadi obyek, tapi juga subyek yang bisa mengambil keputusan.

Merasa bahwa di dunia ini hanya ada saya dan Allah, tidak ada yang lain. Adanya kamu-kamu sekalian dan segala hal yang ada di dunia ini semata-mata hanyalah fasilitas untuk saya. Sebagaimana kisah Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili:

Suatu ketika saat berkelana, Abul Hasan Asy-Syadzili berkata dalam hati, “Ya Allah, kapankah aku bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur?”. Kemudian terdengarlah suara, “Kalau kamu sudah mengerti dan merasa bahwa yang diberi nikmat hanya kamu saja”.

Beliau berkata lagi, “Bagaimana saya bisa begitu, padahal Engkau sudah memberi nikmat kepada para Nabi, Ulama dan Raja?”. Kemudian terdengarlah suara lagi, “Jika tidak ada Nabi, kamu tidak akan mendapat petunjuk, jika tidak ada Ulama kamu tidak akan bisa ikut bagaimana caranya beribadah, jika tidak ada Raja kamu tidak akan merasa aman. Itu semua adalah nikmat dari-Ku yang kuberikan hanya untukmu”.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You May Also Like