Bisa Jadi, Rasa Suka Adalah Tanda Bahwa Ia Memang Jodoh Kita

Total
0
Shares

Bisa jadi, rasa suka dengan seseorang adalah salah satu tanda bahwa ia memanglah jodoh kita. Ia ibarat rasa lapar yang memberitau kita untuk segera makan.

Seandainya rasa lapar itu tidak ada, bagaimana kita tau bahwa saat itu kita sedang butuh makan.

Begitu juga dengan rasa suka. Seandainya si A adalah jodoh kita, bagaimana kita bisa mengusahakannya jika rasa suka itu tidak ada.

Meskipun banyak juga orang yang berjodoh tanpa diawali rasa suka. Makanya di atas saya katakan salah satu.

Setidaknya saya ada beberapa contoh dalam hal ini. Contoh pertama adalah dari kakak saya sendiri. Contoh kedua dari teman seperguruan saya, angkatan satu di Sintesa.

Kisah kakak saya . . .

Dulu, saat kakak saya sedang mencari calon istri, saya ikut merekomendasikan beberapa santri putri dari Pesantren saya. Dari sekian santri putri yang saya ajukan tidak ada yang cocok.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang mendampingi anak didiknya mengikuti lomba pekan madaris di kecamatan sebelah. Ia melihat salah satu pendamping putri dari madrasah lain.

Pada pandangan pertama itu dia langsung suka. Sayangnya kakak saya pemalu, dia ingin ngajak ngobrol tapi tidak berani. Dia hanya mengamati gerak geriknya.

Untungnya, ada bapak-bapak yang mengajaknya ngobrol dan menanyakan namanya. Dari curi dengar itulah kakak saya tau namanya.

Hanya berbekal nama, mustahil rasanya bisa ketemu pikir saya.

Pada waktu bersamaan, ada salah satu murid dari kakak saya yang suka dengannya (Kakak saya ngajar di Pesantren saya). Si murid itu bilang ke Kyai saya kalau dia suka dengan kakak saya.

Akhirnya Kyai saya menyuruh saya untuk meneruskan ke kakak saya. Setelah saya sampaikan, kakak saya tidak mau. Akhirnya saya sarankan untuk sowan sendiri dan menjawabnya sendiri.

Akhirnya kakak saya sowan dan saya ikut mendampinginya. Di hadapan Kyai saya dia menjelaskan alasan penolakannya begini dan begitu bla bla . . .

Dalam sowan itu dia juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan seorang wanita yang sekali pandang dia langsung suka itu.

Saat itu pikir saya dia akan dimarahi, karena belum tau asal usulnya dari mana, latar belakanya bagaimana, dan hanya suka pada pandangan pertama saja.

Namun respon Kyai saya malah sebaliknya. Kyai saya malah mendukungnya, menyuruh kakak saya untuk mencarinya, entah lewat teman, saudara, atau saudaranya teman yang berada di kecamatan tempat pekan madaris itu diselenggarakan.

Kemudian, esok paginya saya ditimbali ke Ndalem. Saya diberi selembar catatan dari Kyai saya dan bilang, “Itu yang dicari kakakmu tadi malam. Dia orang . . . rumahnya gang . . . dia hafal Al-Qur’an”.

Rasanya saya tidak percaya Kyai saya bisa mencarinya hanya dalam waktu semalam saja. Kok bisa? Ternyata yang dicari kakak saya itu adalah santri dari teman Kyai saya.

Dan sampai sekarang, sudah hampir 4 tahun pernikahan itu berjalan.

Kisah kedua . . .

Kisah yang kedua dari pengalaman kakak angkatan saya. Kisahnya ditulis di blog pribadinya dengan judul How We Met. Silahkan baca sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Candaan Terakhir Mbah Moen

Hari itu, Senin 4 Agustus 2019, beliau mencukur kumis dan merapikan janggut. Tiba-tiba, “Makki…!,” kata beliau. “Dalem, Yai,” jawab Hayatul Makki Gus ( @guskhayat ), santri muhibbin yang menyertai beliau…
Selengkapnya