Ketagihan Judi Online

Harapan tak berujung, ketagihan, dan pola pikir yang terbalik. Adalah ciri-ciri orang yang sedang mabuk. Mabuk judi. Judi online. Hasilnya, apa yang diharapkan. Semakin jauh dari kenyataan.

Beberapa hari yang lalu, ada teman yang menghubungi saya. Minta resep, agar bisa berhenti dari judi online. Bukan untuk dia. Tapi untuk temannya.

Katanya, temannya sudah ada niat berhenti. Temannya janji, dia akan berhenti kalau sudah menang. Tapi kalah terus. Utang terus. Hasratnya kian memuncak. Cukup menang sekali saja. Selanjutnya akan berhenti. Tapi kemenangan itu tidak pernah terjadi.

Menunda kebaikan, justru akan semakin jauh darinya.

Dia berharap, di judi kali ini bisa menang. Kemudian akan melunasi semua hutang-hutangnya. Setelah itu akan berhenti. Taubat.

Tapi, kemenangan itu tak pernah datang. Berharap lagi, bermain lagi. Semoga kali ini bisa menang. Setelah itu akan berhenti.

Tapi kenyataannya, kalah lagi. Hutang lagi. Bermain lagi. Dengan harapan baru lagi. Dengan doa baru lagi. Dengan rayuan baru lagi. “Ya Allah, ini yang terakhir. Berikan kemenangan. Kali ini saja. Setelah ini akan berhenti. Taubat.” (Jangan dikira orang-orang seperti ini tidak berdoa 😅)

Percayalah, siklus ini akan terus berputar. Tak pernah berhenti. Sampai hutang menumpuk. Menggunung. Hingga akhirnya menggugat Tuhan. “Ya Allah, kenapa cobaan ini begitu berat?”

Frustasi, depresi, stress. Cari solusi. Bagaimana caranya melunasi. “Kabur?”, ‘Mencuri?”, apa sajalah. Yang penting bisa lunas. Atau setidaknya urusan utang piutang ini selesai. Apapun caranya. “Membunuhnya?”. Jangan. “Bunuh diri?”. Tidak juga. Tapi apa? Semua jalan sudah tertutup.

Frustasi lagi, depresi lagi, stress lagi. Cari solusi lagi. Bagaimana caranya melunasi. “Kabur?”, ‘Mencuri?”, apa sajalah. Yang penting bisa lunas. Atau setidaknya urusan utang piutang ini selesai. Apapun caranya. “Membunuhnya?”. Jangan. “Bunuh diri?”. Tidak juga. Tapi apa?

Tak pernah selesai. Siklusnya kembali berputar. Sampai seberapa kuat menahannya. Hingga sesuatunya terjadi. Tamat. Wassalam.

Ini adalah kemungkinan pertama.

Kemungkinan keduanya:

Seandainya menang dalam judi ini. Keinginan yang dulu akan berhenti tidak akan terwujud. Meskipun keinginan itu dulu disertai sumpah.

Masih akan mencoba bermain lagi, mencoba agar menang satu kali lagi. Agar tak hanya lunas hutang. Tapi juga ada tabungan. Setelah itu akan berhenti. Taubat lagi. Yang ini beneran. Sumpah.

Tapi kalah lagi. Sampai modal habis lagi. Hutang lagi. Bermain lagi. Berharap lagi. Berdoa lagi. Menyesali, kenapa dulu tidak langsung berhenti. Janji lagi, yang ini beneran. Setelah menang. Pasti akan berhenti. Sumpah.

Tapi kalah lagi. Berharap lagi. Hutang lagi. Berputar lagi ke siklus pertama. Tak pernah berakhir. Tiada ujung. Menganggap Tuhan tidak adil. Kejam. Dzolim. Tak pernah mengabulkan doa hambanya.

Ketahuilah, bahwa orang-orang yang seperti ini telah menginjak tiga anak tangga yang salah. Semakin berjalan. Justru semakin jauh dari kenyataan yang diharapkan.

Sebelumnya, ketahuilah bahwa Allah sangat menyayangi hambanya. Maka, mau tidak mau. Kita akan dipaksa untuk bisa menghadapnya. Menyembahnya.

Tangga pertama, menginjak judi yang jelas dilarang oleh agama. Maka kekalahan yang terus menerus adalah wujud kecintaan Allah terhadap orang-orang seperti ini. Itu berarti, Allah tidak menginginkan hambanya memperoleh harta kecuali hanya dari jalan yang Halal. Maka jika terus berjalan di tangga ini. Semakin jauh dari Harta Halal. Harta yang hanya akan Allah berikan kepada hamba yang dicintainya.

Tangga kedua, terus berharap pada sesuatu yang selalu menipu. Yang tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin harapan mendapat harta bisa terwujud. Sedangkan yang diharap adalah harta haram. Padahal Allah hanya akan memberikan Harta Halal kepada hamba-hambanya. Kecuali Allah menghendaki buruk terhadap seseorang. Dengan membiarkan memperoleh harta haram.

Tangga ketiga, berdoa atas sesuatu yang tidak mungkin Allah kabulkan. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan sesuatu yang justru Allah melarangnya.

Sadarlah, kekalahan yang terus menerus ini adalah isyarat dari Tuhan untuk segera bertaubat. Janganlah terlalu jauh berjalan ke belakang. Berhentilah. Balik arah. Allah yang akan memberi jalan keluar. Pasti. Dijamin. Jika Tawakkal.

Tawakkal adalah benteng terakhir untuk menyelsaikan segala masalah. Meskipun dianggap tidak masuk akal. Hutang sudah terlalu banyak. Gaji dari pekerjaan halal tidak mungkin bisa menutupnya. Justru dalam keadaan itulah. Kita bisa tawakal yang sesungguhnya. Ketika menganggap semuanya tidak mungkin. Semuanya tidak bisa. Hanya satu yang bisa. Allah.

Dalam keadaan itu. Kita seperti orang yang sedang tenggelam di lautan. Sendirian. Tanpa apa-apa. Disaat itulah kita bisa berkata: Hanya Allah yang bisa menolong. Tidak ada yang lain.

Yakinlah dan percayalah. Pertolongan itu akan datang. Jalan keluar itu akan dibuka. Itulah janji Allah.

Tentu dengan Tawakkal yang benar. Harapan yang benar.

Saya Tawakkal, hanya minta pertolongan kepada Allah. Apapun yang terjadi saya siap. Seandainya tenggelam saya juga siap.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan komentar