Niat Wudhu dan Tata Cara Berwudhu yang Benar

NIAT WUDHU – Salah satu syarat sah shalat adalah suci dari hadats, baik itu hadats kecil atau hadats besar. Cara untuk mensucikan hadats kecil adalah dengan berwudhu. Sedangkan untuk hadats besar adalah dengan mandi. Jika tidak ada air, maka keduanya boleh diganti dengan Tayamum.

Wajib hukumnya bagi setiap muslim mengetahui tata cara berwudhu atau bersuci ini dengan benar. Sebab, berwudhu adalah salah satu syarat yang menjadikan sahnya shalat. Maka hukum mempelajari ilmu tentang bersuci ini sama hukumnya dengan mempelajari ilmu tentang sholat.

Mengenai dalil tentang wudhu ini terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (Al-Ayat)

Niat Wudhu

Niat Wudhu adalah rukun wudhu yang pertama. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Safinatun Najah oleh Syaikh Nawawi Banten:

Niat wudhu ini dilakukan secara bersamaan saat pertama kali membasuh bagian wajah. Baik yang dibasuh pertama kali ini bagian atas, tengah atau bawah. Dan jika seseorang yang berwudhu ini bukanlah seseorang yang memiliki penyakit (beser atau lainnya). Maka niat wudhu bisa dengan salah satu dari tiga niat berikut:

  • Berniat untuk menghilangkan / bersuci dari hadats, atau bersuci untuk mengerjakan shalat.
  • Berniat agar diperbolehkan mengerjakan shalat atau ibadah lain yang mensyaratkan harus bersuci terlebih dahulu (seperti membaca Qur’an, Thowaf, atau lainnya).
  • Berniat melakukan fardhunya wudhu (hanya berwudhu saja), meskipun yang melakukan wudhu ini adalah seorang anak kecil atau seseorang yang memperbarui wudhunya.

Niat Wudhu Untuk Orang yang Beser

Untuk orang yang memiliki penyakit seperti beser atau ayang-ayangen tidak boleh berniat untuk menghilangkan atau bersuci dari hadats. Sebab penyakitnya selalu membuatnya menanggung hadats. Tetapi niat yang ia lakukan adalah berfungsi agar diperbolehkannya mengerjakan shalat, bukan menghilangkan hadats. Sebagaimana Niat Tayamum.

Sedangkan untuk orang yang memperbarui wudhunya. Maka niat yang ia laksanakan adalah mengerjakan fardhunya wudhu (Hanya berwudhu saja). Tidak diperbolehkan niat untuk menghilangkan atau bersuci dari hadats, dan diperbolehkannya shalat.

Rukun Wudhu dan Tata Cara Wudhu yang Benar

Dan rukun wudhu sendiri ada 6 (rukun wudhu = fardhu wudhu). Sebagaimana disebut dalam beberapa kitab fiqih Madzhab Syafi’i:

فروض الوضوء ستة: الأول النية الثاني غسل الوجه الثالث غسل اليدين مع المرفقين الرايع مسح شيئ من الرأس الخامس غسل الرجلين مع الكعبين السادس الترتيب

“Fardhunya wudhu ada 6: (1) Niat, (2) Membasuh wajah, (3) Membasuh kedua tangan sampai siku, (4) Mengusap sebagian kepala, (5) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki, dan (6) Tertib,” (Salim bin Sumair Al-Hadhrami, Safînatun Najâ, Beirut, Darul Minhaj, 2009, halaman 18).

1. Niat Berwudhu

Niat berwudhu sebagaimana yang telah diterangkan di atas. Niat ini dimantapkan dalam hati bersamaan pada saat membasuh wajah. Niat wudhu ini tidak ada bacaannya.

2. Membasuh Wajah

Rukun Wudhu yang kedua
sumber: jadiberita.com

Rukun wudhu yang kedua adalah membasuh wajah. Batasan membasuh wajah ini dari atas adalah mulai dari bagian tumbuhnya rambut dan bawahnya sampai pangkal kedua rahang. Sedangkan dari samping batasnya adalah antara kedua telinga.

Termasuk dari bagian wajah yang wajib dibasuh adalah rambut yang tumbuh di muka seperti alis, bulu matas, jenggot, kumis, dan berewok. Rambut-rambut itu wajib dibasuh sampai tembus kulit bagian dalamnya.

3. Membasuh Kedua Tangan Sampai Siku

Rukun wudhu yang ketiga
sumber: konsultasisyariah.com

Rukun wudhu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan sampai siku. Guru-guru kami menerangkan dalam membasuh tangan ini tidak sampai batas siku tepat, tetapi melebihi batas siku. Dikhawatirkan jika basuhannya tidak dilebihkan akan ada bagian yang tidak terbasuh.

4. Mengusap Sebagian Kepala

Rukun wudhu yang keempat
sumber: riau24.com

Mengusap sebagian kepala ini cukup hanya dengan mengusap sebagian rambut kepala saja. Aturannya, rambut yang diusap tidak keluar dari batas kepala. Misal yang telah keluar dari batas kepala adalah rambut seorang wanita yang panjangnya sampai punggung. Maka hal itu tidak cukup hanya dengan mengusap ujung rambutnya saja dikarenakan sudah keluar dari batas kepala.

Hal ini dianggap cukup bila rambut yang panjang tersebut dibasuh atau dibilas dengan air.

Perbedaan membasuh dan mengusap: Membasuh adalah mengalirkan air, membilas atau menyiramkannya. Sedangkan mengusap adalah mengusap dengan menggunakan tangan yang basah setelah dicelupkan atau dibasahi dengan air.

5. Membasuh Kedua Kaki Sampai Mata Kaki

Rukun wudhu yang kelima
sumber: dingkelik.net

Dalam membasuh kaki, telapak kaki sampai mata kaki harus benar-benar basah terbasuh dengan air tanpa ada yang terlewat. Oleh karenanya, dalam membasuh hendaknya melebihi mata kaki dan menggosok-gosokkan telapak kaki agar benar-benar basah.

Untuk orang yang cacat telapak kakinya, maka yang dibasuh adalah bagiannya yang masih tersisa. Dan jika cacatnya menghilangkan telapak kaki sampai mata kaki, maka tidak diwajibkan membasuhnya, namun disunnahkan membasuh yang masih tersisa.

6. Tertib

Yang dimaksud tertib adalah melaksanakan aktivitas wudhu tersebut secara tertib berurutan. Sebagaimana urutan yang disebutkan di atas, yakni dimulai dari niat yang bersamaan dengan membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, dan seterusnya sampai membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Hal yang Membatalkan Wudhu

hal yang membatalkan wudhu
sumber: nu.or.id

Dalam beberapa kitab fikih Madzhab Syafi’i. Perkara yang dapat membatalkan wudhu ada empat macam. Sebagaimana diterangkan dalam Safinatun Najah oleh Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadlrami.

Berikut adalah empat hal yang dapat membatalkan wudhu:

1. Keluarnya Sesuatu dari Qubul atau Dubur

Segala sesuatu yang keluar baik dari qubul atau dubur, baik basah atau kering, angin, padat, atau cair, emas atau kotoran, adalah membatalkan wudhu. Kecuali sperma. Keluarnya sperma tidak membatalkan wudhu, tetapi menyebabkan wajibnya mandi besar / mandi junub.

Hal ini berdasarkan surat Al-Maidah ayat 6: أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Artinya: “Atau salah satu dari kalian telah datang dari kamar mandi”.

2. Hilang Akal Sebab Tidur, Gila, Mabuk, Atau Lainnya

Seseorang yang tidur, mabuk, gila, pingsan, atau lainnya wudhunya menjadi batal sebab hilang akalnya. Kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetapkan pantatnya di lantai (Tidak seperti orang yang mengantuk berat saat duduk sampai kemudian mengangkat pantatnya).

فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud)

3. Bersentuhan Kulit Laki-laki dan Perempuan Tanpa Penghalang

Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

Artinya: “atau kalian menyentuh perempuan.”

Bersentuhan kulit antara laki-laki dewasa dengan wanita dewasa yang bukan mahromnya adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu.

Tidak batal wudhu seorang laki-laki dewasa yang bersentuhan kulit dengan perempuan yang masih kecil. Atau sebaliknya. Adapun ukuran sudah dewasa atau masih kecilnya seseorang tidak ditentukan oleh umur. Namun ditentukan oleh muncul atau tidaknya syahwat saat bersentuhan menurut kebiasaan orang normal pada umumnya.

Yang tidak termasuk membatalkan wudhu lagi adalah bersentuhan kulit laki-laki dewasa dengan perempuan dewasa namun masih termasuk mahromnya. Seperti hubungan kakak-adik, mertua-menantu, dst.

*Bersentuhannya kulit antara suami dan istri tanpa adanya penghalang adalah termasuk dalam perkara yang membatalkan wudhu. Sebab suami istri tidak ada hubungan mahrom (Yang dimaksud hubungan mahrom adalah seseorang yang haram untuk dinikahi, seperti kakak, adik, saudara kandung, dll).

4. Menyentuh Kelamin atau Lubang Dubur Manusia

Rasulullah bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Artinya: “Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (HR. Ahmad)

Wudhu menjadi batal sebab menyentuh kelamin atau lubang dubur manusia. Baik menyentuh milik sendir atau orang lain, masih hidup atau sudah mati, anak kecil atau besar, sengaja atau tidak sengaja, atau menyentuh kelamin yang telah terputus, hal itu tetap membatalkan wudhu. Hal ini hanya membatalkan wudhunya orang yang menyentuh, bukan yang disentuh.

Tinggalkan komentar