Golongan Penerima Zakat

Golongan Penerima Zakat

Total
1
Shares

Barickly – Di halaman ini akan dijelaskan tentang siapa saja golongan Orang yang berhak menerima zakat, Penerima zakat yang diprioritaskan, dan Golongan yang tidak boleh menerima zakat.

Di antara sesuatu yang cukup penting untuk diperhatikan dalam menunaikan Zakat adalah memberikan atau menyalurkannya kepada orang yang benar-benar tepat.

8 Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

8 golongan orang yang berhak menerima zakat

Di antara golongan orang-orang yang berhak menrima zakat ini telah Allah sebutkan dalam salah satu firman-Nya:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sungguh zakat itu hanya untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah maha mengetahui, maha bijaksana,” (Surat At-Taubah ayat 60).

Ayat di atas menjelaskan bahwa golongan orang yang berhak menerima zakat terkumpul ke dalam 8 golongan. Delapan golongan tersebut dipilih sebagai Mustahik Zakat secara umum, baik untuk zakat fitrah atau zakat mal (harta).

1. Faqir

Secara bahasa, Faqir artinya adalah tulang punggung yang patah. Dikatakan demikian karena ketidakmampuannya menahan beban hidup dari penghasilan yang ia miliki. Sehingga diibaratkan sebagai tulang punggung yang patah.

Sedangkan menurut istilah Fiqih, Faqir adalah mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan menentu sekaligus tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga menyebabkannya banyak memiliki hutang.

2. Miskin

Sebenarnya, jika dilihat dari undang-undang di Indonesia mengenai pengertian fakir dan miskin adalah sama. Yaitu orang yang tidak memiliki penghasilan atau memiliki penghasilan namun tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan layak.

Misal, kebutuhan sehari-harinya adalah IDR 50.000. Namun penghasilan yang ia dapat kurang dari itu (Misal IDR 40.000, IDR 30.000, atau bahkan tak menentu di bawah dari kebutuhan pokok tersebut).

3. Amil Zakat

Amil zakat adalah orang yang menjadi panitia dan mengurusi zakat. Mereka mengurusi zakat mulai dari penjemputan sampai mendistribusikannya kepada golongan orang-orang yang berhak menerima zakat.

Menurut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS): Amil Zakat adalah mereka yang mendapat izin secara sah dari otoritas pemerintah yang berwenang menarik zakat dari seseorang atau lembaga.

Maka jika seseorang tidak memiliki izin yang sah baik dari BAZNAS atau dari organisasi yang ada di bawahnya semisal LAZISNU dan LAZISMU, maka ia tidak bisa dikatakan sebagai Amil Zakat.

4. Muallaf

Muallaf adalah orang yang hatinya tergerak untuk masuk Islam karena pilihannya sendiri. Tentu sebelumnya telah mengalami berbagai pergolakan batin yang sangat luar bisa sehingga memutuskan untuk memeluk Islam.

Muallaf menjadi bagian dari Mustahiq Zakat karena beberapa alasan berikut:

  • Muallaf yang Imannya masih lemah. Sehingga pemberian Zakat adalah bentuk perhatian dan kepedulian antar sesama Muslim yang bisa membuatnya tenang, dan diharapkan dapat menebalkan Imannya.
  • Muallaf yang Imannya sudah kuat dan memiliki jabatan yang strategis. Pemberian Zakat kepadanya diharapkan bisa menjadikan para pengikutnya tertarik dengan Islam dan pada akhirnya masuk islam.
  • Termasuk bagian dari Muallaf adalah: Orang Islam yang hidupnya berdampingan dengan orang-orang kafir. Hal ini sangat rentan karena bisa membuatnya ikut dan tertarik ke dalam agama dan budayanya. Oleh karena itu ia juga berhak untuk menerima Zakat.

5. Memerdekakan Budak

Harta yang terkumpul dari zakat bisa digunakan untuk memerdekakan budak. Dengan ini Islam memperlihatkan pelenyapan praktek perbudakan yang ada di muka bumi.

Sedangkan teknis pembebasannya ada dua cara, yaitu:

  1. Memberikan zakat kepada budak mukatab, yaitu budak yang membuat perjanjian dengan tuannya bahwa dirinya akan membayar sejumlah uang untuk membebaskan dirinya sendiri dengan mencicil.
  2. Menolong dengan membeli atau membebaskan budak secara langsung dengan uang zakat yang terkumpul dari para muzaki (orang yang wajib membayar zakat).

6. Orang yang Terlilit Hutang (Gharim)

Dalam hal ini, tidak semua orang yang memiliki hutang masuk dalam kategori ini. Karena ada banyak orang berhutang namun hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk kebutuhan pokok.

Menurut Imam Syafi’i, ada dua jenis orang yang masuk dalam kategori Gharim ini:

  1. Orang yang hutang untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
  2. Orang yang hutang untuk memenuhi kebutuhan sosial.

7. Fi Sabilillah

Para Ulama’ mengatakan bahwa yang dimaksud Fi Sabilillah adalah orang yang mengikuti kegiatan perang yang tujuannya untuk menegakkan agama Islam.

Namun para ulama kontemporer berpendapat bahwa definisi Sabilillah saat ini tidak hanya pada lingkup perang saja. Namun juga bisa untuk kegiatan amal dan ilmu yang menuju ridho Allah.

Substansi dari pendistribusian zakat itu untuk kebaikan agama Islam. Seperti pembuatan masjid, pendidikan, dakwah Islam dan lain sebagainya.

8. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil atau orang yang sedang dalam perjalanan adalah golongan terakhir yang berhak menerima Zakat. Namun perjalanan yang dilakukan bukanlah perjalanan yang bertujuan melakukan maksiat.

Jika dalam perjalanan tersebut ia mengalami kehabisan bekal makanan. Ia berhak menerima zakat. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Islam juga memperhatikan orang-orang yang terlantar.

Golongan Penerima Zakat yang Diprioritaskan

Golongan Penerima Zakat

Dari 8 golongan di atas, siapakah yang paling prioritas untuk menerima zakat? Singkatnya, penerima zakat yang diprioritaskan adalah:

  • Janda tua
  • Saudara kandung
  • Paman
  • Bibi, dan
  • Kerabat/Keluarga yang nafkahnya tidak dalam tanggungan Muzakki

Mengutip dari NU Online, di antara penerima zakat yang diprioritaskan adalah janda tua. “Para janda tua perlu mendapatkan perhatian khusus, karena secara sosial, kehidupan ekonomi mereka lebih sulit dibanding masyarakat lainnya.”

Selain janda tua, penerima zakat lainnya yang diprioritaskan adalah keluarga/kerabat yang kondisinya fakir atau miskin. Namun bukan keluarga/kerabat yang nafkahnya termasuk dalam tanggungannya.

Memberikan zakat kepada keluarga/kerabat yang nafkahnya tidak dalam tanggungannya, adalah sesuatu yang disunnahkan. Dan ia akan mendapat dua pahala, yakni pahala menunaikan zakat dan pahala menyambung silaturahmi.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits riwayat Imam Nasa’i:

إنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِيْ الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Shadaqah pada orang miskin mendapatkan (pahala) shadaqah, Shadaqah kepada saudara mendapatkan dua pahala, yakni (pahala) shadaqah dan (pahala) menyambung tali persaudaraan,” (HR An-Nasa’i).

Dari penjelasan ini, memberikan zakat kepada keluarga/kerabat adalah sesuatu yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan selagi mereka bukanlah orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki.

Sedangkan ketika keluarga/kerabat itu adalah orang yang wajib dinafkahi oleh muzakki (istri, anak, dan orang tua), maka memberikan zakat kepada mereka tidak diperbolehkan. Dan jika tetap dilakukan, pemberiannya tidak dihukumi sebagai zakat.

Ringkasan

Ringkasan dalam BAB Asnaf Samaniyah ini akan dikemas dalam bentuk tanya jawab. Semoga bermanfaat dan memahamkan bagi pembaca.

Pelajari ulasan lainnya seputar Zakat kolom di BAB Zakat.

2 comments

Tinggalkan Balasan

You May Also Like

Bacaan Niat Zakat Fitrah

Niat adalah pekerjaan hati atau sebuah i’tikad untuk memantapkan suatu perbuatan, termasuk Zakat. Meskipun sebenarnya niat adalah perkara hati, namun mengucapkan atau melafalkan niat Zakat Fitrah ini dianjurkan karena bisa…
Selengkapnya
Doa Menerima Zakat Fitrah

Doa Menerima Zakat Fitrah

Orang yang telah menerima zakat fitrah adalah orang yang menerima kebaikan dari orang lain. Ole karenanya, adab yang baik bagi orang yang menerima kebaikan adalah juga membalas kebaikan orang yang…
Selengkapnya
Zakat fitrah dengan uang

Zakat Fitrah dengan Uang

Bolehkah membayar Zakat Fitrah dengan Uang? Jika boleh, berapa besaran jumlah uang yang harus dibayarkan? Sebelum membahas hukumnya lebih jauh, kita flashback sejenak terkait budaya pembayaran Zakat yang terjadi di…
Selengkapnya