Yang Dirasakan Saat Berobat di RSUD

Hari ini. Senin, 29 Oktober 2018. Ketiga kalinya saya menyambangi RSUD dalam satu bulan ini. Untuk periksa mata. Yang pertama didiagnosis mata saya alergi. Setelah diberi obat nyatanya makin parah. Setelah kontrol pada Minggu berikutnya ternyata bukan alergi. Tapi infeksi.

Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh. Tapi masih sering terasa sakit dan nyeri di kala malam tiba. Rasanya seperti melihat matahari. Silau, tidak tahan memandangnya. Selalu ingin menutup mata. Dan berat untuk membukanya. Itulah yang saya rasakan.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Saya sering guyonan dengan teman-teman. Saat berobat ke RSUD itu tidak malah sembuh. Tapi malah menambah penyakit baru. Penyakit stress. Karena terlalu lama menunggu.

Selain lama menunggu. Juga ada shock theraphy. Dari para petugas RSUD. Yang begitu ramah membentak orang-orang desa. Yang belum tau bagaimana tata caranya berobat di RSUD.

Di loket pendaftaran. Seorang Bapak tua. Yang rambut hitamnya kian sedikit. Nyelonong di loket pendaftaran. Mau mendaftar untuk berobat. Di tanya sama petugas:

“Nomer antriannya mana Bapak?”

Karena tidak tau apa-apa. Bapak itu kebingungan.

Sambil berdzikir dengan nada tinggi: “Astaghfirullaaaah….., ambil nomer antriannya dulu Bapaaak. Itu ambil di sana!” Sambil menunjuk kearah tempat pengambilan nomor antrian.

Minggu lalu. Saat saya kontrol yang kedua. Saya bertemu dengan saudara saya dari Singorojo – daerah pegunungan. Jauh dari kota. Orangnya kalem-kalem, ramah, halus, dan lembut. Saya selalu diberi uang saku kalau bertemu dengan saudara-saudara saya dari sana.

Kebetulan kami berobat di poli yang sama. Poli mata. Setelah diperiksa saya tanya hasilnya bagaimana.

Katanya akan dioperasi. Tapi dia tidak paham kapan akan dioperasinya itu. Setelah mengambil obat dia balik lagi ke ruangan pemeriksaan. Kebetulan yang diperiksa adalah saya.

Dia bertanya ke staff dokter yang membantu. Kapan operasinya. Dan bertanya hal-hal lain yang belum ia paham.

Mendengar pertanyaan itu. Staff dokter itu juga beristighfar dengan nada tinggi. Pertanda ia begitu kesal meladeni orang-orang desa yang selalu tidak paham tata cara.

Dari awal saya ke RSUD. Saya selalu menyaksikan orang-orang yang belum paham bagaimana cara berobat di RSUD. Juga selalu menyaksikannya diarahkan dengan nada kesal.

Saya tau. Ini bukan salah para pegawai di RSUD itu. Melainkan sistem dan keadaannya. Saya tidak akan menyebutkannya. Anda tau sendiri.

Saya hanya ingin berkeluh kesah di sini. Mengungkapkan kekesalan saya di tulisan ini.

Ada tiga hal yang sangat membosankan bagi saya. Menunggu terlalu lama. Yang sebenarnya hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk pelaksanaannya.

Pertama: Antrian pendaftaran. Biasanya, antri pendaftaran menggunakan KIS/BPJS menunggu antara 45 menit sampai 1 jam. Dan 10 – 15 menit untuk UMUM.

Setelah mendaftar. Masih harus antri lagi antara 1 – 2 jam di poli. Pemeriksaan dilakukan kira-kira 15 menit.

Setelah itu masih harus antri lagi di apotek tempat pengambilan obat. Kira-kira antara 30 menit – 90 menit.

Di atas itu yang terjadi pada umumnya. Ada yang lebih cepat. Ada juga yang lebih lama. Saya pernah bertanya pada Bapak-bapak. Dia pernah mendaftar dari sebelum Subuh. Sholat Subuh di RSUD. Baru dipanggil untuk diperiksa waktu Ashar.

Bayangkan. Proses dari awal hingga akhir. Mulai dari pendaftaran sampai pengambilan obat. Yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu 30 menit. Bisa membengkak sampai bersih jam jam.

Sekian keluh kesah saya. Sekali lagi ini tidak bermaksud menjelek-jelekkan RSUD. Tapi hanya sebagai pelampiasan keluh kesah saya. Karena saya yakin mereka juga mengeluhkan dengan keadaan ini.

*RSUD : Berlaku untuk semua RSUD di Negeri ini.

Tinggalkan komentar